Berikutadalah kriteria-kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan wadah maupun kemasan penyajian : a. Bahan kemasan atau wadah penyajian tidak berbau sehingga tidak mempengaruhi atau mengubah rasa dari produk pangan olahan b. Beliplastik kemasan wadah beras 5 kg. Dengan demikian fungsi kemasan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:. Merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan menteri ini. Pengertian kemasan primer adalah bahan kemas yang menjadi wadah langsung bahan makanan. Berikut merupakan contoh pelekatan simbol limbah b3 dan label limbah. cash. Latihan Soal Online - Latihan Soal SD - Latihan Soal SMP - Latihan Soal SMA Kategori Semua Soal ★ UAS Prakarya SMP Kelas 7 / Soal no. 2 dari 20Berikut merupakan syarat kemasan/wadah, kecuali ….A. mudah didapatB. tidak berasal dari bahan berbahayaC. aman bagi kesehatanD. murahPilih jawaban kamu A B C D E Latihan Soal SD Kelas 1Latihan Soal SD Kelas 2Latihan Soal SD Kelas 3Latihan Soal SD Kelas 4Latihan Soal SD Kelas 5Latihan Soal SD Kelas 6Latihan Soal SMP Kelas 7Latihan Soal SMP Kelas 8Latihan Soal SMP Kelas 9Latihan Soal SMA Kelas 10Latihan Soal SMA Kelas 11Latihan Soal SMA Kelas 12 Preview soal lainnya Besaran dan Satuan - Fisika SMP Kelas 7 › Lihat soalBesaran turunan yang bisa dihasilkan dari dua alat ukur ini adalah …A. KecepatanB. Massa jenisC. UsahaD. Daya Renang - Penjaskes PJOK SMA Kelas 10 › Lihat soalPada nomor 4 x 100 m gaya ganti estafet, satu regu diwakili oleh empat orang perenang yang masing-masing berenang 100 m. Urutan gaya renang yang ditampilkan oleh perenang pertama hingga keempat pada perlombaan tersebut secara beruutan yaitu …a. Gaya dada, gaya bebas, gaya kupu-kupu, dan gaya punggungb. Gaya punggung, gaya bebas, gaya kupu-kupu, dan gaya dadac. Gaya punggung, gaya dada, gaya kupu-kupu, dan gaya bebasd. Gaya bebas, gaya dada, gaya punggung, dan gaya kupu-kupue. Gaya kupu-kupu, gaya bebas, gaya dada, dan gaya punggung Materi Latihan Soal LainnyaUlangan Seni Budaya 1 SMP Kelas 7UH2 Sejarah SMA Kelas 10PAS Bahasa Indonesia Semester 1 Ganjil SMP Kelas 8Ulangan Bahasa Inggris SD Kelas 4US Bahasa Indonesia SD Kelas 6Globalisasi - Sosiologi SMA Kelas 12Matematika SD Kelas 3USBN Matematika SD Kelas 6Ulangan PAS Bahasa Inggris SD Kelas 5 Semester 1 GanjilPAS Agama Islam Semester 1 Ganjil SMA Kelas 10 Tentang Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia. Berita Aktual Bijak dalam Menggunakan Kemasan Pangan 10 Mei 2007 0900 WIB Dilihat 35000 Kali Produk Pangan » Kemasan Pangan Faktor yang mempengaruhi migrasi senyawa toksik adalah jenis serta konsentrasi kimia terkandung, sifat komposisi pangan beserta suhu dan lama kontak. Kemajuan teknologi memberikan efektifitas dalam pengemasan pangan minuman. Berbagai jenis dan bentuk kemasan memudahkan pangan untuk didistribusikan. Pangan ataupun minuman menjadi lebih awet dan higienis jika dikemasan dengan baik. Konsumen pun merasa nyaman dengan tersediannya produk pangan terkemas, serta tersedianya berbagai pilihan kemasan produk pangan rumah tangga. Seperti gayung bersambut, fenomena ini dimanfaatkan oleh berbagai produsen kemasan pangan. Berbagai jenis, bentuk, dan ukuran, kemasan tersedia. Bermacam-macam bahan dari yang paling sederhana mulai dari kertas sampai paling modern yakni polivnil dan logam digunakan dalam kemasan ini. Dewasa ini secara garis besar terdapat lima macam bahan pengemas yakni kertas dan bahan sejenisnya, gelas, plastik, dan logam. Masing – masing jenis bahan pengemas ini memiliki keunggulan tertentu. Jenis kemasan tersebut cocok untuk jenis pangan tertentu. Pangan padat, setengah padat pasta dan cair minuman memiliki bahan kemas tersendiri. Di satu sisi kemasan memberikan keuntungan, disisi lain kemasan juga perlu diwaspadai. Tidak semua bahan pengemas aman terhadap pangan minuman. Oleh karena itu kemasan tersebut harus memenuhi syarat keamanan. Pengaruh Negatif Kemasan Plastik Plastik adalah campuran yang mengandung polimer, filler, plasticizer, retar dan nyala, antioksidan, lubrikan, stabilizer panas dan pigmen warna. Jenis polimer yang banyak digunakan adalah polietilen, polipropilen, polivinilklorida dan polisterina. Resiko yang ditimbulkan senyawa-senyawa tersebut lihat tabel jenis Polimer senyawa kimia toksik dari plastik dapat bermigrasi terhadap pangan antara lain karena pengaruh suhu dan waktu kontak. Suhu tinggi lebih dari 60oC dan lama kontak selama 30 menit, senyawa toksik seperti halnya formalin sudah termigrasi ke dalam bahan pangan. Semakin besar suhu dan semakin lama kontak, migrasi senyawa toksik akan semakin besar. Oleh karena itu perlu diperhatikan aplikasi kemasan jenis ini dalam makanan minuman. Pengaruh Negatif Kemasan Logam Berbagai kaleng terbuat dari jenis-jenis logam seng, aluminium, besi, alumunium dan seng tidak meracun dalam kadar rendah bagi tubuh manusia. Logam akan bereaksi dengan asam, dan logam tersebut larut, oleh karena itu akan menurunkan kualitas bahan pangan atau minuman yang bersifat tambahan kaleng, misal cat, serta bahan pelapis kaleng organik epoksi fenol dan organosol perlu diperhatikan penggunaannya. Kaleng ataupun kemasan logam lainnya tidak boleh mengandung logam timbal, kromium, merkuri, dan cadmium. Logam-logam ini mengakibatkan efek negatif terhadap kesehatan manusia. lihat tabel pengaruh negatif penggunaan logam. Banyak makanan dan minuman yang bersifat asam. Kontak antara asam dengan logam akan melarutkan kemasan logam yang bersangkutan. Waktu kontak berkorelasi positif dengan jumlah logam yang terlarut. Artinya semakin lama terjadinya kontak, maka semakin banyak logam yang larut. Oleh karena itu perlu dipilah jenis pangan-minuman yang layak dikemas dengan kaleng atau kemasan logam. Pengaruh Kemasan Asal Bahan Kertas dan Sejenisnya Bahan kemas asal kertas sudah lama dikenal. Kemasan kertas banyak digunakan, terutama dipasar tradisional. Penggunaan koran bekas ataupun kertas sisa banyak dijumpai di warung, dan dipasar. Secara mod pun kemasan kertas digunakan, baik ditambah pelapis maupun secara dasar kertas adalah bubur kertas selulosa dan felted mat. Komponen lain adalah hemiselulosa, fenil propan terpolimerisasi sebagai lem untuk melengketkan serat, minyak esensial, alkaloid, pigmen, mineral. Terkadang digunakan klor sebagai pemutih, digunakan pula adhesive aluminium, pewarna dan berbahaya termigrasi yang ada dalam kertas adalah tinta, terutama untuk kertas bekas mengandung logam berat, serta komponen bahan kimia tersebut di atas kecuali selulosa dan lignin. Mengingat kertas pun memberikan ancaman bagi kesehatan, maka pemilihan bahan yang dikemas, dan penggunaan kertas sebagai pengemas harus diperhatikan. Kertas bertinta seharusnya tidak digunakan untuk membungkus bahan pangan secara langsung. Migrasi Bahan Kimia Berbahaya Dari Kemasan Terjadinya keracunan ataupun akumulasi bahan toksik, sebenarnya karena proses migrasi senyawa tersebut dari kemasan ke pangan. Migrasi merupakan perpindahan bahan kimia baik itu polimer, monomer, ataupun katalisator kemasan contoh formalin dari kemasan/wadah melamin kedalam pangan. Migrasi memberikan dampak terhadap penurunan kualitas pangan dan keselamatan pangan. Jumlah senyawa termigrasi kebanyakan tidak disadari, tetapi berpengaruh fatal terutama pada jangka yang mempengaruhi migrasi senyawa toksik adalah jenis serta konsentrasi kimia terkandung, sifat komposisi pangan beserta suhu dan lama kontak. Kualitas bahan kemasan juga berpengaruh terhadap migrasi. Jika bahan inert tidak mudah bereaksi maka migrasinya kecil dan migrasi bahan toksik meningkat karena lamanya kontak, meningkatnya suhu, tingginya konsentrasi senyawa termigrasi dan bahan makanan yang terlalu reaktif. Migrasi bahan toksik merupakan masalah serius jangka panjang bagi kesehatan konsumen, oleh karena itu perlu perhatian khusus. Peraturan dan perundang-undangan harus ditegakkan sebagai payung hukum. Pengawasan oleh BPOM RI secara independent akan mengurangi resiko kontaminasi bahan berbahaya, sehingga dapat mengaktulisasikan tujuan pokok organisasi dalam melindungi masyarakat dari pangan berbahaya. Pemilihan Kemasan Pangan Menyikapi keberadaan jenis bahan kemas yang heterogen, perlu kebijakan khusus dalam pemilihan kemasan efektif dan mencapai sasaran. Sejumlah kriteria perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kemasan pangan Sifat bahan kimia pangan beserta stabilitasnya dalam hal komposisi kimia, biokimia, mikrobiologi kemungkinan reaksi dan kecepatan reaksi terhadap bahan kemasan pengaruhnya dengan suhu dan waktu. Sifat bahan kimia pengemas, kompatibilitasnya harus dinilai secara bahan kimia tersebut mudah termigrasi, serta evalusi terhadap pengaruh suhu dan waktu kontak terhadap komposisi yang dikandung pengemas. Evaluasi terhadap faktor lingkungan. Mengingat migrasi bahan toksik sangat dipengaruhi suhu, lama kontak dan jenis senyawa toksik dalam kemasan, maka faktor lingkungan harus diperhatikan. Kategori Pangan Terkemas Kategori pangan penting diketahui untuk pemilihan bahan pengemas. Secara garis besar pangan dapat dikategorikan sbb Sesuai derajat asam basanya pH Pangan maupun minuman beragam kadar asam basanya. Ada yang bersifat sangat asam, ada yang netral dan ada pula yang basa. Pangan yang bersifat asam berbahaya jika kemasannya terbuat dari logam. Pangan yang bersifat netral lebih banyak memiliki kecocokan dengan banyak jenis bahan kemas. Suhu saat pengemasan dan penyimpanan saat pengemasan ada yang dilakukan saat pangan pada suhu tinggi diatas 60oC, suhu kamar, ataupun suhu rendah. Pengemasan pangan pada suhu tinggi, ataupun penyimpanan pangan terkemas pada suhu tinggi akan meningkatkan migrasi bahan kia toksik, Formaldehid dari kemasan melamin termigrasi pada suhu tersebut. Kandungan kimia dominan Bahan kimia dominan dalam pangan dapat berupa protein, lemak/minyak, garam dsb. Pemilihan kemasan disesuaikan dengan kandungan kimia; seyogyanya dipilih kemasan yang tidak bereaksi antara kemasan dan kimia bahan pangan. Sebagai contoh Pangan berkadar garam tinggi, akan mendegradasi kemasan logam. SYARAT KEAMANAN KEMASAN PANGAN Kemasan tidak bersifat toksikdan beresidu terhadap pangan-minuman. Kemasan harus mampu menjaga bentuk, rasa, kehigienisan, dan gizi bahan pangan. Senyawa bahan toksik kemasan tidak boleh bermigrasi ke dalam bahan pangan terkemas. Bentuk, ukuran dan jenis kemasan memberikan efektifitas. Bahan kemasan tidak mencemari lingkungan hidup. Secara ringkas syarat kemasan harus mampu melindungi pangan secara fisik, kimia dan biologis. Beberapa bahan kemasan karena pengaruh suhu, dan waktu kontak terhadap jenis bahan pangan tertentu, menimbulkan efek toksik bagi tubuh manusia. DASAR HUKUM Dasar Hukum Dalam perihal peraturan tentang kemasan pangan, telah dituangkan dalam Undang-undang tentang pangan yang kemudian diimplementasikan dalam permenkes tentang produksi dan peredaran pangan. Peraturan tersebut lengkapnya sbb Undang-undang Th 1996 tentang Pangan UU 7/1999 Pasal 1 butir 10 Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi atau membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. Pasal 16 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dilarang menggunakan bahan apapun sebagai kemasan pangan yang dinyatakan terlarang dan atau yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia. Pengemasan pangan yang diedarkan dilakukan melalui tata cara yang dapat menghindarkan terjadinya kerusakan dan atau pencemaran. Pemerintah menetapkan bahan yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan dan tata cara pengemasan pangan tertentu yang diperdagangkan. Pasal 17 Bahan yang akan digunkan sebagai kemasan pangan, tetapi belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia, wajib terlebih dahulu diperiksa keamanannya, dan penggunaannya bagi pangan yang diedarkan dilakukan setelah memperoleh persetujuan Pemerintah. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 329/Menkes/Per/XII/76 tentang Produksi dan Peredaran Pangan Pasal i butir ane Wadah adalah barang yang dipakai untuk mewadahi atau membungkus makanan yang berhubungan langsung dengan isi. Pasal 1 butir two Pembungkus adalah barang yang digunakan untuk membungkus makanan yang tidak berhubungan langsung dengan isi. Pasal 13 Wadah makaanan harus dapat melindungi dan mempertahankan mutu isinya. Wadah harus dibuat dari bahan yang tidak melepaskan zat yang dapat mengganggu kesehatan. Jenis Polimer No Polimer Plastik Jenis Bahan Toksik Pengaruh Terhadap Kesehatan 1. Polivnil Klorida Polivinil Klorida Hidrogen Klorida HCL, plastizicer ester asamftalat dioktif ftalat, dibutil ftalat Kanker, mutasi gen, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, disfungsi hati, bronchitis dan tukak two. Polietilen Aldehid alifatik LDPE, Hidrokarbon alifatik tidak jenuh HDPE Kanker 3. Ftalat Ester asam ftalat Gangguan pertumbuhan dan reproduksi, asma four. Polyester Ester Menyebabkan iritasi mata, saluran pernapasan dan kulit kemerahan 5. Polioksimetilen Fomaldehid Formalin Iritasi bronchhial, mencret, muntah, depresi susunan syaraf, gangguan peredaran darah, konvulsi Pengaruh Negatif penggunaan Logam No Nama Logam Penggunaan Bahaya Bagi Kesehatan Pengaruh Megatif penggunaan Logam No Nama Logam Penggunaan Bahaya Bagi Kesehatan 1. Timbal Pb Stabilizer, pewarna Kerusakan organisation syaraf pusat, menghambat pembentukan haemoglobin, anemia, menimbulkan osteoporosis, karsinogenik two. Kromium Cr Pewarna Kromium heksavalen menyebabkan kanker dan alergi kulit 3. Nikel Ni Stabilizer Karsinogenik 4. Kadmium Cd Stabilizer Osteoporosis, kerusakan ginjal, kerusakan paru-paru. 5. Merkuri Hg Kerusakan system syaraf pusat, kerusakan ginjal, karsinogenik. Source 4 SYARAT KEMASAN PRODUK 1. Kemasan Harus Bisa Mewadahi Produk Bentuk fisik dari suatu bahan kemasan, haruslah didesain sedemikian rupa agar mudah untuk diisi, memenuhi segala persyaratan hukum dan ekonomi serta bisa ditutup secara efektif. Kemasan yang dikapalkan dikirim menggunakan kapal dalam fungsi sebagai pengemasan luar agar dimensinya konsisten telah diwadahi dan dikemas supaya selama pengapalan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Penambahan bahan promosi maupun bahan suplemen lainnya perlu untuk diwaspadai supaya tidak terjadi bentuk yang kurang atau tidak menarik. Pengisian kedalam wadah juga harus selalu diperhatikan jangan sampai terjadi terlalu penuh maupun terlalu kurang. Bahan kemasan yang digunakan harus didesain mampu untuk menahan tekanan ataupun vibrasi selama dalam proses perjalanan. Pengisian bahan yang agak berdebu sering sekali membuat masalah pada saat pengisian dan penutupan wadah, sehingga bahan atau media adhesive harus dipilih secara selektif. Melalui bahan pengemasan serta produk tertentu dapat terjadi muatan elektrastatik dalam melengkapi static elimination pada mesin pengemasannya. Sementara pada produk cair yang dikemas, biasanya mempunyai berat jenis yang bervariasi, penguapan, viscositas, pembentukan gelombang udara dan lain sebagainya. Akibat dari adanya fenomena tersebut maka perlu diwaspadai agar didapatkan hasil yang optimal dalam proses pengemasannya, baik wadah kemasan ataupun mesin pengemasan didesain dengan spesifik. Sifat stretching dari bahan material tertentu agar selalu diperhatikan dalam perencanaannya, seperti misalnya dalam proses produk barang dari polyethilen film, untuk pekerjaan shrink film dibutuhkan alat khusus untuk pengaplikasiannya. 2. Kemasan Harus Bisa Melindungi Produk Keadaan lingkungan seperti suhu yang tinggi atau rendah, maupun humidity yang tinggi dan rendah, dapat mengakibatkan kegagalan terhadap fungsi kemasan secara efektif. Humidity yang tinggi dapat melemahkan kekuatan dari corrugated box dan dapat pula mengakibatkan lepasnya ikatan atau kelengketan dari beberapa adhesive. Stabilitas dimensi dari film biasanya sangat terbatas pada suhu yang maximal. Pada bidang industri kalengan can, kemasan harus diseal rapat-rapat dengan produk didalamnya, bisa bertahan terhadap panas, goncangan dan tekanan yang ada. Seal harus tetap efektif selama berlakunya produk selama belum masa kadaluarsa yang mewadahi. Bahan kemasan harus bisa menahan tekanan pada saat proses distribusi, transparansi serta handling. Penggunaan bahan yang tepat serta desain yang sesuai akan bisa memperkecil kemungkinan terjadinya kerusakan. Daya tahan tehadap thermal shock untuk industri tertentu juga harus selalu diperhitungkan, sebagai contohnya dalam pasteurisasi produk retort dan pendinginan cepat pada produk can. Kemasan harus sebisa mungkin didesain untuk dapat menghindari terjadinya pengrusakan maupun pencurian selama dalam proses distribusi. Didisain sedemikian rupa agar dapat memenuhi fungsinya serta tidak berbahaya bagi konsumen. Sehingga bisa disimpulkan bahwa proteksi tersebut mencakup proses produk yang bersangkutan selama transit, pergudangan, retail sale, serta yang terpenting selama dipakai oleh konsumen. Proteksi ini diperlukan juga terhadap kondisi udara, panas, cahaya, pencurian, serta akibat kerusakan mekanis. Dalam keadaan tertentu dibutuhkan pula proteksi terhadap serangga serta micro organisme lainnya. Efek dari fabrikasi akan mengakibatkan kelemahan pada bagian tertentu dari bahan kemasan, seperti misalnya pada bagian creasing dari bag, kelemahan bagain film yang berdekatan dengan seal line, tear strips pada kemas corrugated box, perforasi pada karton, bahu dari blown bottle dan lain sebagainya. Kemasan perlu untuk ditest pada bagian yang lemah. Kerusakan oleh lingkungan biasanya diakibatkan karena kurang sempurna barrier propertisi dari kemasan. Material yang dipakai harus bisa menahan keluarnya uap air kedalam kemasan. Pada material tertentu, penetrasi dari uap air masih bisa ditoleransi pada keadaan tertentu, akan tetapi menghambat penetrasi gas maupun bahan yang mudah menguap. Glass dan logam praktis tidak bisa dipenetrasi oleh gas ataupun uap air, namun dalam praktek seringkali sifat tersebut dapat diperoleh melalui kombinasi material fleksible kemasan fleksibel. 3. Kemasan Harus Bisa Menjual Produk Yang utama dari kemasan adalah kemasan harus bisa menunjukkan identitas dari suatu produk. Sistem distribusi dan teknik perdagangan yang modern mempersayratkan agar produk dapat diidentifikasikan dalam pandangan sekilas. Informasi yang diharapkan dapat ditampilkan dalam kemasan antara lain yaitu b Deskripsi singkat dari produk d Isi, berat atau volume e Perusahaan, logo dan nama produsen h Ilustrasi yang menggambarkan produk Ukuran ataupun unit kuantitas per-package ialah hal yang perlu untuk diperhatikan. Hasil riset pemasaran adalah hal yang menentukan mengenai ukuran yang bisa memenuhi keinginan para pelanggan. Ukuran pengemasan untuk transparansi harus selalu disesuaikan dengan pola distribusi. Sementara ukuran untuk kepentingan transportasi diharapkan jangan terlalu berat, hal ini untuk keamanan serta kemudahan dalam handling. Selain indentifikasi dasar, kemasan juga harus dapat menarik perhatian konsumen agar membeli produk tersebut. Kemasan harus merupakan rantai terakhir dalam sebuah kegiatan iklan dan display serta harus bermakna pesan promosi. Hal yang penting juga ialah hasil pemotretan kemasan, yang dapat dipakai sebagai media iklan yang efektif. Bentuk serta dimensi harus dirancang secara teliti untuk dapat didisplay, baik penempatan dalam shopping bag maupun penyimpanan ditempat konsumen. Kemasan dibuat agar dapat mewakili produk secara keseluruhan, barang yang murah agar dapat diwadahi kemasan yang ekonomis, sedangkan barang yang berkualitas tinggi mempergunakan kemasan yang prestige. Transparansi material bisa digunakan untuk produk yang menarik, hal ini agar mudah untuk diidentifikasikan oleh konsumen. Sales appeal juga menjadi hal yang penting, bahkan menjadi lebih penting karena dengan meningkatnya kemunculan supermarket dan toko swalayan. 4. Biaya yang Minimal Secara Keseluruhan Biaya kemasan yang minimum secara keseluruhan tidak hanya meliputi biaya kemasan saja. Waktu, biaya material, biaya kerja, serta biaya transportasi ialah keseluruhan yang mencakup over all cost, disamping itu termasuk juga biaya dari produk yang gagal mencapai tujuan dalam kondisi yang memuaskan akibat kemasan yang tidak efektif. Contohnya dalam pengepakan dan juga pengangkutan dari barang keramik bisa saja nilai kerusakan yang terjadi dapat melampaui biaya yang dihemat karena tidak memakai kemasan yang tidak semestinya. Penggunaan bahan kemasan yang berlebihan juga tidak disarankan, hal ini karena akan meningkatkan biaya. Akan tetapi selanjutnya pemakaian bahan kemasan yang tidak memadai juga akan merugikan, karena produk yang diwadahi bisa saja menjadi rusak dalam pengangkutan dan penyimpanan. Apabila produk tersebut sudah sampai ke konsumen dan terjadi hal tersebut, maka hal ini akan merusak citra dari produk serta perusahaan yang bersangkutan.

berikut merupakan syarat kemasan wadah kecuali